“Menurut Naila Rohmaniyah dkk. (2023) dalam Jurnal Sejarah Peradaban Islam, Temu Manten merupakan bagian tradisi pernikahan adat Jawa yang sarat simbolisme dan filosofi kehidupan berkeluarga. Bagi MC pemula, mempersiapkan teks MC Temu Manten bahasa Jawa bisa terasa menakutkan. Anda bukan dalang berpengalaman, tetapi tetap ingin menyampaikan sambutan yang pantas, halus, dan khidmat.
Teks MC Temu Manten Bahasa Jawa
Artikel ini hadir sebagai panduan dasar: memandu bagaimana menyusun dan membawakan teks pertemuan pengantin (Temu Manten) dengan bahasa Jawa yang sopan dan mudah dipelajari pemula. Dalam tradisi Jawa modern, penggunaan ungkapan tulus dan krama inggil dalam sambutan akan membuat suasana lebih hangat namun tetap terhormat.
Temu Manten adalah puncak acara pesta pengantin adat Jawa di mana pengantin pria dan wanita “dipertemukan” kembali setelah sah menjadi suami-istri. Prosesi ini melibatkan rangkaian ritual seperti sinduran, kacar-kucur, hingga sungkeman. MC (pranata acara) memiliki peran penting dalam mengantarkan setiap tahap tersebut agar berjalan lancar.
Peran Pranatacara (MC) dalam Temu Manten
Menurut DetikJatim, pranatacara (MC) adalah bagian penting dan bertanggung jawab menjaga kelancaran acara pernikahan adat Jawa. Pranata acara bertugas mengantar tamu, memandu jalannya ritual, serta memastikan setiap prosesi adat terlaksana sesuai urutan.
DetikJateng menekankan bahwa pranata hadicara alias MC harus bisa mengantarkan acara dengan baik karena “tanggung jawab MC sangatlah besar”. Dengan bahasa yang tepat, MC menjaga agar suasana tetap khidmat dan penuh unggah-ungguh.
Para MC pemula sering cemas akan peran besar ini. Namun, anda dapat mulai dengan memahami tugas dasar berikut:
- Menyapa tamu undangan dengan salam pembuka. Contoh: “Assalamu’alaikum Wr. Wb., Sugeng rawuh ingkang kinurmatan para tamu.”
- Mengantar prosesi acara satu per satu. Jelaskan secara singkat makna setiap ritual (misalnya sindur, kacar-kucur) dengan bahasa Jawa halus.
- Menjaga suasana agar tertib dan penuh rasa hormat. Berjalanlah dengan tegak, gunakan intonasi ramah, dan bangun kontak mata dengan tamu.
- Menutup acara dengan ucapan terima kasih dan doa penutup. Pastikan salam penutup sopan, misalnya “Matur nuwun sanget, mugi Gusti paring pangestu.”
Dengan persiapan dan latihan, MC pemula pun bisa memimpin acara dengan tenang.
Unggah-Ungguh dan Krama Jawa di Acara Temu Manten
Menurut Irma Budiarti (DetikJatim, 2025), penggunaan bahasa Jawa krama alus sangat umum dalam acara resmi untuk menciptakan suasana sopan. DetikJatim juga menekankan bahwa pranata acara sebaiknya konsisten menggunakan krama alus/krama inggil agar suasana temu manten menjadi lebih khidmat.
Misalnya, MC menyapa “Sugeng rawuh” atau “Para kinurmatan” daripada menggunakan bahasa Indonesia modern. Penggunaan ungkapan seperti panjenengan (Anda), monggo (silakan), atau ningali ingkang kinurmatan (melihat tamu yang dihormati) akan menunjukkan rasa hormat.
MC pemula perlu memahami unggah-ungguh basa Jawa (tata krama berbahasa) agar tidak melakukan kesalahan. Menurut kitaberduawedding, menggunakan salam dalam bahasa Indonesia saja di acara adat Jawa dianggap kurang sopan.
Sebagai gantinya, kenali frasa tradisional sederhana seperti “Nuwun sewu” (permisi) atau “Mugi rahayu” (semoga selamat) untuk mempersilakan tamu duduk atau mengakhiri sambutan. Selain itu, hindari campur kode berlebihan. Misalnya, jangan menyelipkan kata “terima kasih” atau “oke” di tengah pidato Jawa, karena hal itu bisa mengganggu kesakralan acara.
Tips praktis untuk krama Jawa pemula:
- Gunakan satu register konsisten, misalnya krama inggil, untuk seluruh teks sambutan.
- Sisipkan kata-kata halus seperti ipun, katur, ingkang, kalih, wonten.
- Perbanyak kosakata Jawa sopan (contoh: kedhaton, ingkang kinurmatan, kawilujengan).
- Latihan membaca dan dengarkan contoh pratayang dari MC berpengalaman.
Dengan begitu, pengucapan salam pembuka maupun penjelasan ritual akan terdengar lebih tulus dan terhormat.
Susunan Prosesi Adat Jawa dalam Temu Manten
Menurut Rohmaniyah dkk. (2023), Temu Manten terdiri dari beberapa tahapan ritual adat seperti sanggrahan (sanggrahan), balangan gantal, sinduran, hingga kacar-kucur, masing-masing membawa makna budaya tersendiri. MC perlu mengetahui urutan prosesi ini agar dapat menjelaskan kepada tamu. Secara umum, susunan Temu Manten meliputi:
- Balangan Gantal (Sanggrahan): Mempelai pria melempar sirih dan bunga setangkai ke arah pengantin wanita sebagai ungkapan kasih sayang. Kemudian sebaliknya, pengantin wanita melempar ke mempelai pria.
- Stepping (Ngetep/Tetepe): Pengantin pria memijak telur yang diletakkan sebagai simbol memecah masalah; kemudian pengantin wanita membasuh kaki pengantin pria dengan siraman bunga dan air suci.
- Sinduran (Slindur): Ibu mempelai wanita menyelimutkan tangan pengantin pria dan wanita dengan selendang (slindur) di pelaminan. Menurut DetikJateng, sinduran melambangkan figur ayah sebagai penerang jalan kehidupan keluarga. Sementara kain selendang ibu menyiratkan restu dan do’a bagi pengantin.
- Kacar-Kucur: Pengantin pria menuangkan beras kuning, koin, dan bunga ke atas sapu tangan pengantin wanita. Ritual ini melambangkan sang suami menyerahkan tanggung jawab nafkah kepada istri. (Menurut jurnal Rohmaniyah dkk., kacar-kucur melambangkan suami menyelesaikan urusan nafkah keluarga kepada istri.)
- Dhahar Klapa (Dulur Sungkeman): Kedua mempelai saling menyuapi nasi klepah untuk menegaskan keharmonisan.
- Mapag Besan & Sungkeman: Suami/istri baru bersimpuh dan sungkem kepada orang tua sebagai tanda bakti (sungkeman).
MC dapat menjelaskan singkat setiap ritual menggunakan bahasa Jawa halus, misalnya: “Mbok menawi dados ganjaran, makna kacarkucur inggih punika keikhlasan dados janji ingkang becik…”. Penjelasan ini membantu tamu memahami simbolisme acara.
Tantangan MC Pemula dan Cara Mengatasinya
Banyak MC baru menghadapi rasa gugup dan kekhawatiran membuat kesalahan. Menurut kitaberduawedding, kesalahan umum dalang (MC) pemula termasuk campur kode bahasa, kurang fasih krama inggil, salah istilah adat, serta terlalu panjang berbicara.
Misalnya, masih menggunakan kata “kamu” tanpa imbuhan halus atau salah mengucapkan “kembar mayang” menjadi “kembar telu” akan dinilai kurang njawani (tidak Jawa pada norma sopan).
Beberapa solusi praktis:
- Berlatih Berulang: Latih teks berulang kali hingga lancar. Menurut kitaberduawedding, latihan terus-menerus membantu penghayatan kata-kata Jawa, sehingga penyampaian terasa lebih tulus.
- Minta Masukan: Perdengarkan latihan Anda kepada orang Jawa/Sunda di sekitar atau guru bahasa. Koreksi pelafalan krama dan intonasi.
- Gunakan “Cue Card”: Tulis poin penting alur acara sebagai pengingat, sehingga mengurangi ketergantungan baca teks panjang.
- Fokus Inti Sambutan: Hindari bicara bertele-tele. Seperti yang disarankan, MC sebaiknya ringkas tapi bermakna. Tekankan inti makna tiap prosesi saja.
- Hindari Bahasa Campur: Saat di pelaminan, sebut mempelai dengan krama (panjenengan, ingkang, putri lanang). Jangan tiba-tiba menggunakan bahasa Inggris atau Indonesia umum, karena merusak unggah-ungguh.
Dengan persiapan matang, MC pemula dapat tampil tenang. Ingat, setiap MC profesional pun belajar dari pengalaman.
Tips Praktis untuk MC Temu Manten Andal
Menurut Maya Rachmawaty (penulis buku Semua Bisa Jadi MC), MC pernikahan sebaiknya menggunakan suara rendah yang terdengar serius namun ramah. Berikut beberapa kiat tambahan:
- Atur Suara dan Ekspresi: Gunakan vokal yang lembut tetapi jelas. Selalu tersenyum agar terkesan bersahabat. Jangan lupa membangun kontak mata dengan hadirin agar tamu merasa diperhatikan.
- Sikap Tubuh Elegan: Berdiri tegak dengan bahu rileks. Untuk MC pria, buka kaki selebar bahu dan tangan rileks. MC wanita boleh bersiap dengan satu kaki maju sedikit agar tampak dinamis.
- Berpakaian Sesuai Adat: Kenakan kebaya atau baju adat Jawa untuk mendukung suasana. Pakaian yang rapi menunjukkan profesionalisme dan menghargai tradisi.
- Bawa Panduan Ringkas: Pakai cue card (catatan kecil) yang berisi poin utama acara. Ini memudahkan transisi antar prosesi tanpa meraba-raba teks panjang.
- Latihan Sebelum Acara: Uji coba suara dengan microphone. Berlatih di depan cermin atau orang lain untuk mengecek intonasi dan pengucapan kata Jawa halus.
Semua kiat ini menolong Anda tampil percaya diri. Ingatlah bahwa ketenangan MC memengaruhi suasana; MC yang tenang membuat tamu merasa nyaman.
Kesimpulan
Temu Manten bukan sekadar rangkaian acara adat, melainkan prosesi sakral penuh makna yang membutuhkan peran MC (pranatacara) yang cermat, sopan, dan memahami unggah-ungguh Jawa. Bagi MC pemula, kunci utamanya adalah persiapan matang: memahami urutan prosesi, menggunakan bahasa Jawa krama secara konsisten, serta menyampaikan penjelasan secara ringkas namun bermakna. Dengan latihan, sikap tenang, dan penghormatan pada tradisi, MC pemula pun mampu memandu Temu Manten dengan khidmat, njawani, dan berwibawa.
FAQ
Apakah MC pemula wajib menggunakan bahasa Jawa krama inggil sepanjang acara Temu Manten?
Ya, idealnya MC menggunakan satu register bahasa yang konsisten, yaitu krama alus atau krama inggil, agar suasana tetap sopan, khidmat, dan sesuai unggah-ungguh adat Jawa.
Apakah Temu Manten tetap bisa dipandu dengan baik?
Bisa, asalkan MC mempersiapkan teks dengan matang, berlatih pengucapan, menggunakan cue card, dan membatasi penjelasan agar tetap ringkas dan tidak bertele-tele.
Prosesi apa saja yang wajib dijelaskan MC saat Temu Manten?
MC sebaiknya menjelaskan prosesi inti seperti balangan gantal, sinduran, kacar-kucur, dhahar klapa, dan sungkeman secara singkat agar tamu memahami makna simboliknya.
Kesalahan apa yang paling sering dilakukan MC pemula dalam Temu Manten?
Kesalahan umum meliputi mencampur bahasa Jawa dan Indonesia secara berlebihan, salah istilah adat, penggunaan kata tidak sopan, serta penjelasan yang terlalu panjang.
Apakah MC perlu menjelaskan makna ritual secara mendalam kepada tamu undangan?
Tidak perlu terlalu mendalam. Cukup sampaikan inti makna setiap prosesi dengan bahasa Jawa halus agar tamu memahami simbolnya tanpa mengganggu alur dan kekhidmatan acara.
Jika artikel ini berguna, jangan lupa komentar pengalaman Anda, share ke teman sesama MC, dan kunjungi undanganklaten.com untuk tips undangan pernikahan adat Jawa lainnya.
MC pemula pun bisa memandu Temu Manten dengan pantas dan berwibawa!
Penulis: Dewa Priyatna, Solo – Jawa Tengah.
Budayawan dan penulis berpengalaman di bidang pernikahan adat Jawa. Pernah menjadi MC di berbagai acara Jawa, aktif menulis di undanganklaten.com.
Sumber: Detik (Budaya), UndanganKlaten.com, Jurnal Sejarah Peradaban Islam, penelitian budaya Jawa, dan arsip pernikahan adat Jawa




